Sunday, August 2, 2009

4 Peristiwa Saqîfah

4

Peristiwa Saqîfah

S

îrah Nabî karya Ibnu Ishâq yang asli tidak pernah ditemukan lagi. Yang sampai kepada kita adalah ulasan Ibnu Hisyâm, seorang Sunnî yang fanatik, terhadap buku Ibnu Ishâq terse­but, dengan judul ‘Amr Saqîfah Banî Sâ’idah’ (Peristiwa Saqîfah Banî Sâ’idah), yang tercatat pada akhir bukunya.[1]

Ibnu Hisyâm menulis:

Ibnu Ishâq berkata: ‘Tatkala Rasûl Allâh saw. wafat, kaum Anshâr berkumpul mengelilingi Sa’d bin ‘Ubâdah di Saqîfah Banî Sâ’idah. ‘Alî bin Abî Thâlib, Zubair bin ‘Awwâm dan Thalhah bin ‘Ubaidillâh memisahkan diri di rumah Fâthimah. Kaum Muhâjirîn yang lain berkumpul di sekeliling Abû Bakar dan ‘Umar bersama Usaid bin Hudhair dari Banû ‘Abdul Asyhal. Kemudian seseorang datang kepada Abû Bakar dan ‘Umar, mengatakan bahwa kaum Anshâr telah berkumpul di Saqîfah Banî Sâ’idah mengelilingi Sa’d bin ‘Ubâdah. ‘Dan bila kamu berkehendak memerintah manusia, maka rebutlah sebelum mereka bertindak lebih jauh’.

Dan Rasûl Allâh saw. masih berada di rumahnya. Persiapan pengu­buran belum selesai, dan keluarga Rasûl Allâh saw. telah mengunci rumahnya.

Sesudah pembukaan ini, Ibnu Hisyâm mengutip tulisan Ibnu Ishâq tentang kesaksian ‘Abdullâh bin ‘Abbâs, dua belas tahun setelah peristiwa Saqîfah. ‘Abdullâh bin ‘Abbâs mendengar langsung pidato ‘Umar di Masjid Nabî di Madînah. Ibnu Hisyâm melanjutkan:

Ibnu Ishâq menceritakan tentang peristiwa berkumpulnya kaum Anshâr di Saqîfah: ‘Abdullâh bin Abû Bakar menceritakan kepada saya (Ibnu Ishâq), yang diden­garnya dari Ibnu Syihab az-Zuhrî, dari ‘Ubaidillâh bin ‘Abdullâh bin ‘Utbah bin Mas’ûd, dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs yang berkata:

‘Saya (Ibnu ‘Abbâs ) mendapat kabar dari ‘Abdurrahmân bin ‘Auf. Waktu itu saya berada di tempat menginapnya di Mina. ‘Abdurrahmân bin ‘Auf menyertai ‘Umar dalam perjalanaan haji ‘Umar yang terakhir. Saya (biasa) mengajar mengaji kepadanya, dan sedang menunggunya. Tatkala ‘Abdurrahmân bin ‘Auf pulang, ia berkata kepada saya: ‘Saya ingin kiranya Anda melihat (ketika) seorang pria datang kepada Amîru’l-mu’minîn dan berkata: ‘Wahai, Amîru’l-mu’minîn! Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang berkata: ‘Demi Allâh, apabila ‘Umar bin Khaththâb meninggal, saya akan membaiat si Anu. Bukankah baiat yang diberikan kepada Abû Bakar adalah suatu kekeliruan karena tergesa-gesa, namun dianggap telah selesai?’

Di sini kita lihat bahwa ada orang yang hendak membaiat seseorang apabila ‘Umar telah meninggal dunia. Laporan ini dicatat oleh hampir semua penulis, tanpa menyebut nama kedua orang itu, kecua­li Balâdzurî. Ia menyebut Zubair sebagai orang yang berbicara, sedang yang hendak dibaiat adalah ‘Alî bin Abî Thâlib[2]. Catatan Balâdzurî ini diperkuat Ibn Abîl-Hadîd.[3]

Ada pula yang menyebutkan ‘Ammâr bin Yâsir sebagai orang yang hendak membaiat, tetapi hanya ‘Alî saja yang disebut sebagai orang yang hendak dibaiat. Masih mengikuti laporan Ibnu ‘Abbâs .

‘Abdurrahmân bin ‘Auf berkata selanjutnya: ‘Umar lalu marah-marah seraya berkata: ‘Insya Allâh, malam ini saya akan berdiri di hadapan rakyat dan mengingatkan mereka akan orang-orang yang hendak merebut kekuasaan’. ‘Abdurrahmân melanjutkan: Saya berka­ta: ‘Wahai Amîru’l-mu’minîn, jangan melakukan yang demikian itu. Ini musim haji dan di sini selalu ada rakyat jelata dan kaum jembel, yang merupakan mayoritas. Saya khawatir, apabila Anda berdiri dan berbicara kepada mereka, niscaya mereka akan mengu­langi kata-kata Anda tanpa memahaminya, dan mereka tidak dapat menafsirkannya dengan tepat. Tunggulah sampai kita tiba di Madînah, karena kota itu adalah kota Sunnah, dan (di sana) Anda dapat berunding dengan para ahli dan pemuka-pemuka masyarakat. Maka katakanlah apa yang hendak Anda sampaikan. Para ahli itu akan paham dan akan menaf­sirkannya sesuai dengan apa yang akan Anda sampaikan’. ‘Umar lalu menjawab: ‘Demi Allâh, akan saya laksanakan segera setelah saya sampai di Madînah’.

Setelah menyampaikan apa yang didengarnya dari ‘Abdurrahmân bin ‘Auf di Makkah itu, Ibnu ‘Abbâs melanjutkan laporannya secara langsung sebagai saksi mata atas khotbah ‘Umar di Madînah.

Ibnu ‘Abbâs menceritakan: ‘Kami tiba di Madînah pada Akhir bulan Zulhijah. Pada hari Jumat, tatkala matahari mulai condong, saya bergegas ke Masjid. Saya duduk dekat Sa’îd bin Zaid bin Amr yang duduk di dekat mimbar, sehingga lututku bersentuhan dengan lu­tutnya dan ‘Umar belum juga kelihatan. Dan tatkala saya melihat ‘Umar bin Khaththâb datang, saya berkata pada Sa’îd bin Zaid: ‘Siang ini ia akan mengucapkan sesuatu di atas mimbar ini, suatu ucapan yang tidak pernah diucapkannya sejak ia menjadi khalîfah’. Sa’îd bin Zaid mengingkari apa yang saya katakan dan ia berkata: ‘Apa gerangan yang akan dikatakannya yang belum pernah diucapkannya?’

Setelah ‘Umar duduk di atas mimbar, dan muazin sudah diam, ‘Umar memuji Allâh sebagaimana layaknya, lalu berkata: “Amma ba’du. Hari ini saya hendak mengatakan kepada Anda sekalian, sesuatu yang ditakdirkan Allâh kepada saya untuk menyampaikannya. Dan saya tidak tahu apakah ini merupakan perkataan saya yang terak­hir. Barangsiapa yang memahaminya dan memperhatikannya, dapatlah ia menyimpan dan membawanya ke mana ia pergi; dan barangsiapa yang merasa takut tidak dapat memahaminya, tidak dapat ia menyangkal bahwa saya telah mengucapkannya...

‘Saya mendengar bahwa seseorang (Zubair, menurut Balâdzurî) telah berkata, ‘Bila ‘Umar meninggal dunia, maka saya akan membaiat si Anu (‘Alî, menurut Balâdzurî). Jangan kalian membiarkan seseorang menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa pembaiatan kepada Abû Bakar adalah suatu kekeliruan karena dilakukan tergesa-gesa, (faltah), namun telah selesai. Sebenarnya memang demikian, tetapi Allâh telah melindunginya dari malapetaka. Tiada seorang pun di antara kalian yang lebih dicintai rakyat daripada Abû Bakar. Dan barangsiapa membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum Muslimîn, maka baiat itu tidak sah, dan keduanya harus dibunuh. Kalimat, “Jangan membiarkan seseorang menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa pembaiatan terha­dap Abû Bakar adalah faltah”, yang diucap­kan ‘Umar ini menunjukkan bahwa kata-kata tersebut pernah diucap­kan sebelumnya. Memang, ‘Umar sendiri,menurut Ibnu ‘Abbâs dan ‘Abdurrahmân bin ‘Auf,sebelumnya pernah mengatakan: “Sesungguhnya pembaiatan terhadap Abû Bakar adalah faltah, tetapi Allâh telah menghindarkan malapetaka daripadanya.Dan barangsiapa melakukan hal yang serupa, maka bunuhlah dia”.[4] Abû Bakar sendiri mengakui hal yang sama, dengan kata-kata, “Sesungguhnya baiat terhadapku adalah faltah, tetapi Allâh telah menghindarkan malape­taka yang diakibatkannya”.[5]

Tiga Kelompok

Dari peryataan ‘Umar bin Khaththâb ini jelas bahwa pencalonan Abû Bakar mendapat perlawanan hebat dari kaum Anshâr maupun ‘Alî bin Abî Thâlib serta pengikutnya.

Sesuai dengan peryataan ‘Umar itu, ada tiga kelompok yang muncul ke permukaan, tepat setelah wafatnya Rasûl Allâh saw.:

1.Kelompok pertama terdiri dari ‘Alî bin Abî Thâlib[6], keluarga Banî Hâsyim dan kawan-kawannya termasuk orang-orang yang sedang berkumpul di rumah Fâthimah, yakni: Salmân al-Fârisî, Abû Dzarr al-Ghifârî, Miqdâd bin Amr, ‘Ammâr bin Yâsir, Zubair bin Awwâm, Khuzaimah bin Tsâbit, ‘Ubay bin Ka’b, Farwah bin ‘Amr, Abû Ayyûb al-Anshârî, ‘Utsmân bin Hunaif, Sahl bin Hunaif, Khâlid bin Sa’îd bin ‘Âsh al-Amawî serta Abû Sufyân, pemimpin Banû ‘Umayyah. Meskipun Abû Sufyân tidak berada di Madînah tatkala Abû Bakar dibaiat di Saqîfah, namun setelah tiba di Madînah beberapa hari kemudian, ia menyatakan dukungannya pada ‘Alî. Calon dari kelompok ini ialah ‘Alî bin Abî Thâlib.

Kedudukan ‘Alî di sisi Rasûl Allâh saw. sangat khusus, berbeda dengan seluruh Sahabat yang lain. Pujian Rasûl Allâh saw. terha­dap ‘Alî barangkali melebihi pujian terhadap seluruh Sahabat lainnya sekaligus. Sejak turunnya ayat Wa andzir asyîrataka’l aqrabîn[7], Rasûl Allâh saw. telah mengangkat ‘Alî sebagai wazir beliau. Sejak masa kecilnya, ‘Alî dibesarkan dalam asuhan dan pendidikan langsung dari Rasûl Allâh saw.. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Rasûl Allâh saw. bersabda, ‘Saya gudang ilmu, dan ‘Alî adalah pintunya’. Rasûl Allâh saw. memandang ‘Alî sebagai saudara penggantinya; kedudukan ‘Alî di sisi Rasûl Allâh saw. seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ, hanya saja tiada Nabî sesudah Muhammad saw.. Dalam khotbah Rasûl Allâh saw. di Ghadîr Khum, Rasûl Allâh saw. menyebut ‘Alî sebagai Wali kaum mu’minîn.[8]

‘Alî juga dikawinkan Rasûl Allâh saw. dengan putri beliau, penghulu kaum wanita sedunia, sayyidâtun-nisâ’ al-âlamin, Fâthimah.

2. Kelompok kedua ialah kelompok kaum Anshâr, yang melakukan pertemuan tersendiri di Saqîfah. ‘Calon’ dari kelompok ini ialah Sa’d bin ‘Ubâdah[9] . Kelompok ini menjadi lemah tatkala sedang berlangsung perdebatan di Saqîfah, karena ‘pembangkangan’ Usaid bin Hudhair, ketua Banû Aws, suku yang menjadi musuh bebuyutan sukunya, suku Khazraj. Seorang ‘pembangkang’ lainnya lagi ialah Basyîr bin Sa’d, saudara misan Sa’d bin ‘Ubâdah sen­diri. Kedua ‘pembangkang’ ini, sebagai akan kita lihat nanti, memegang peranan terpenting dalam memenangkan Abû Bakar.

Kedudukan Sa’d bin ‘Ubâdah, calon dari kaum Anshâr untuk jabatan khalîfah itu, menonjol. Ia memegang peranan sebagai tokoh utama kaum Anshâr dalam membantu Rasûl Allâh saw., melindungi Rasûl Allâh saw. dari musuh-musuh beliau kaum Quraisy jahiliah Makkah dan kaum munafik, selama sepuluh tahun. Ia turut dalam bai’atul Aqabah sebelum Rasûl Allâh saw. hijrah ke Madînah. Dalam pembukaan Makkah, Sa’d diberi kehormatan oleh Rasûl Allâh saw. sebagai salah satu dari empat orang pembawa panji. Karena sikapnya yang keras terhadap kaum jahiliah Quraisy, Rasûl Allâh saw. memerintahkannya untuk menyerahkan panji itu kepada putranya, Qais bin Sa’d bin ‘Ubâdah. Kehormatan yang diberikan Rasûl Allâh saw. kepada Sa’d bin ‘Ubâdah ini cukup melukiskan betapa besar penghargaan Rasûl Allâh saw. kepada tokoh kaum Anshâr ini.

3. Kelompok ketiga ialah kelompok ‘Umar bin Khaththâb[10], Abû Bakar[11] dan Abû ‘Ubaidah bin al-Jarrâh[12] . Dapat dimasukkan pula ke dalam kelompok ini Mughîrah bin Syu’bah[13] dan ‘Abdurrah-man bin ‘Auf [14]. ‘Calon’ dari kelompok ini ialah Abû Bakar.

Kedudukan Abû Bakar dan ‘Umar hampir tidak perlu disebut lagi. Abû Bakar termasuk di antara orang-orang yang awal menganut Islam. Bantuan Abû Bakar dan ‘Umar kepada Rasûl Allâh saw. dalam memperjuangkan Islam sangat besar. Rasûl Allâh saw. kawin dengan ‘Â’isyah putri Abû Bakar, dan Hafshah putri ‘Umar.

Sebenarnya masih ada kelompok lain, seperti kelompok ‘Utsmân bin ‘Affân beserta anggota-anggota Banû ‘Umayyah, kelompok Banû Zuhrah dengan tokoh-tokohnya Sa’d bin Abî Waqqâsh dan ‘Abdurrahmân bin ‘Auf, namun kita batasi saja pembicaraan pada ketiga kelompok yang disebutkan ‘Umar dalam khotbahnya yang telah dikutipkan di atas.

Untuk memahami pernyataan ‘Umar bahwa ‘kaum Anshâr menentang kami dan melakukan pertemuan dengan tokoh-tokohnya di Saqîfah Banî Sâ’idah, ‘Alî bin Abî Thâlib dan Zubair bin ‘Awwâm serta kawan-kawan mereka memisahkan diri dari kami, sedang kaum Muhâjirîn berkumpul pada Abû Bakar’, diperlukan lagi penjelasan dari sum­ber-sumber sejarah kita.

Bagaimana, misalnya, sampai kaum Anshâr yang terbesar di wilayah Madînah yang seluas 128 kilometer persegi, dari Bukit Uhud yang sejauh delapan kilometer di sebelah utara Saqîfah, dari Bukit ‘Air yang berjarak delapan kilometer di sebelah selatan, dari al-Harrah asy-Syarqiyyah di sebelah timur, serta al-Harrah al-Gharbiyyah di sebelah barat, yang masing-masingnya berjarak empat kilometer, dapat berkumpul di Saqîfah tepat sesaat setelah wafatnya Rasûl Allâh saw.? Bagaimana Abû Bakar, ‘Umar dan Abû ‘Ubaidah mendapatkan berita tentang pertemuan kaum Anshâr di Saqîfah itu? Sedang berada di mana mereka pada waktu itu? Apa sebabnya ‘keluarga Rasûl Allâh saw. mengunci rumahnya’ dan kawan-kawan ‘Alî, seper­ti Zubair, berkumpul di rumah ‘Alî? Mengapa maka ‘Alî dan kawan-kawannya tidak ikut ke Saqîfah bersama rombongan Abû Bakar, ‘Umar dan Abû ‘Ubaidah?

Sebelum kita meneruskan pidato ‘Umar, marilah kita ikuti peristi­wa munculnya kelompok-kelompok ini untuk merebut ‘kekuasaan’ yang lowong dengan wafatnya Rasûl Allâh saw..

Usaha Rasûl Hadapi Ketiga Kelompok Ini

1.Rasûl Allâh saw. Mengirim Sa’d bin Ubadah, Abû Bakar Serta ‘Umar ke Mu’tah. ‘Alî Dan Pengikutnya Dipertahankan di Madînah.

Sejak pulangnya dari Hajjatu’l Wadâ’, delapan puluh hari menjelang wafatnya, Rasûl Allâh saw. telah bersiap-siap mengirim pasukan untuk memerangi kaum Romawi di Mu’tah di wilayah Suriah, di mana telah terbunuh sepupu Nabî Ja’far bin Abî Thâlib, dan Zaid bin Hâritsah.

Pada hari Senin 4 hari sebelum bulan Safar berakhir pada tahun 11 Hijriah, Rasûl Allâh saw. memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan untuk memerangi orang Romawi di Mu’tah. Keesokan harinya Rasûl Allâh memanggil Usâmah bin Zaid bin Hâritsah dan berkata: ‘Pergilah ke tempat terbunuhnya ayahmu dan perangilah mereka dan aku mengangkat engkau sebagai pemimpin pasukan..’. Dan pada hari Rabu Rasûl Allâh saw. demam dan sakit kepala. Besok, pada pagi hari, Rasûl Allâh saw. menyerahkan panji-panji kepada Usâmah, dengan tangannya sendiri. Dengan membawa panji-panji, pasukan berangkat dan berkemah di Jurf. Dan tidak ada lagi kaum Muhâjirîn yang awal dan kaum Anshâr di Madînah. Semua ikut dengan pasukan Usâmah. Di dalamnya terdapat Abû Bakar Ash-Shiddîq, ‘Umar bin Khaththâb, Abû ‘Ubaidah bin al-Jarrâh, Sa’d bin Abî Waqqâsh, Sa’îd bin Zaid dan lain-lain. Dan orang mulai berkata: ‘Beliau menjadikan orang muda ini sebagai pemimpin kaum Muhâjirîn yang awal!’ Dan Rasûl Allâh saw. marah sekali dan beliau lalu keluar dengan melilitkan serban di kepalanya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Beliau naik ke atas mimbar dan bersabda: ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa sebagian di antaramu telah mencela pengangkatan Usâmah sebagai pemimpin (pasukan)! Kamu juga dahulu mencela tatkala aku mengangkat ayahnya menjadi pemimpin sebelum ini! Demi Allâh, ia pantas memegang pimpinan sebagaimana ayahnya, yang juga pantas memegang pimpinan’. Kemudian beliau turun dari mimbar dan kaum Muslimîn yang ikut dalam pasukan Usâmah pergi, berlalu meninggalkan Madînah ke perkemahan pasukan di Jurf. Dan penyakit Rasûl Allâh saw. makin memberat dan beliau bersabda: ‘Percepat pasukan Usâmah!’ Dan pada hari minggu sakit Rasûl Allâh saw. bertambah parah. Usâmah kembali dari kemahnya dan menemui Nabî. Beliau pingsan. Usâmah membungkuk dan menciumnya. Rasûl Allâh saw. tidak berbicara. Usâmah lalu kembali ke perkemahan pasukannya. Tatkala hari Senin tiba, Usâmah telah berada di Madînah dan Rasûl Allâh saw. telah sadar kembali. Beliau bersab­da: ‘Pergilah dengan berkat Allâh!’ Usâmah lalu berangkat ke perkemahan, dan memerintahkan pasukannya untuk berangkat. Tatkala ia baru saja akan menunggangi kudanya, tibalah seorang utusan yang dikirim oleh ibunya yang bernama Ummu Aiman. Utusan itu berkata: ‘Rasûl Allâh sedang menghadapi ajalnya’.Dan Usâmah kembali lagi ke Madînah bersama ‘Umar bin Khaththâb dan Abû ‘Ubaidah dan berhenti di depan rumah Rasûl Allâh. Rasûl Allâh telah wafat tatkala matahari mulai condong, yaitu pada hari Senin tanggal 12 bulan Rabî’ul Awwal.[15]

Rasûl Allâh saw. berulang-ulang memerintahkan mereka untuk mem­percepat keberangkatan pasukan itu, dan melaknat mereka yang meninggalkan pasukan.[16]

Bahwa Abû Bakar termasuk dalam pasukan Usâmah dicatat oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqât al-Kubrâ, jilid 2, hlm. 41; Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Tahdzîb asy-Syam, jilid 2, hlm. 391; Muttaqî al-Hindî, Kanzu’l-’Ummâl, jilid 5, hlm. 312; Ibnu Atsîr, Târîkh al-Kâmil, jilid 2, hlm. 120. Semuanya menyatakan bahwa Abû Bakar dan ‘Umar termasuk dalam pasukan Usâmah. Karena Rasûl Allâh begitu marah karena memperlambat pasukan Usâmah, dapatlah dipahami adanya usaha “mengeluarkan” Abû Bakar dari keikut sertaannnya dalam pasukan Usâmah dengan riwayat bahwa Abû Bakar menjadi imam tatkala Rasûl Allâh sedang sakit yang akan dibicarakan di bagian lain buku ini..

Tetapi Usâmah sedikitnya tiga kali kembali ke Madînah, karena tidak mendapatkan dukungan dari kaum Muhâjirîn. ‘Umar bin Khaththâb agaknya hampir tidak meniggalkan kota Madînah, terus mengikuti perkembangan Rasûl Allâh saw.. Paling sedikit, pada hari Kamis tanggal 8 Rabî’ul Awwal dan hari wafatnya Rasûl Allâh saw. (12 Rabî’ul Awwal), ‘Umar berada di Masjid Nabî dan bertemu dengan Rasûl Allâh saw.. Abû Bakar, agaknya kembali dari Jurf dan menginap pada sebuah rumahnya yang terletak di Sunh, sekitar satu setengah kilometer ke arah barat Masjid. Paling tidak, Abû Bakar berada di Sunh pada waktu wafatnya Rasûl Allâh saw..

Kaum Anshâr, yang takut akan dominasi kaum Quraisy dari Makkah yang mereka perangi selama sepuluh tahun terakhir, setelah menge­tahui bahwa Rasûl Allâh saw. telah wafat, segera mengadakan pertemuan di Saqîfah Banî Sâ’idah, yang terletak lima ratus meter di sebelah barat Masjid Madînah.

Ada hal-hal yang menarik dari tindakan Rasûl Allâh saw. ini:

a. Ekspedisi yang dikirim Rasûl Allâh saw. dipimpin oleh seorang remaja yang berusia tujuh belas tahun, dan ekspedisi itu akan memakan waktu lebih dari sebulan.

b. Dalam ekspedisi ini Rasûl Allâh saw. mengirim tokoh-tokoh terkemuka dari kaum Anshâr dan Muhâjirîn, termasuk ‘calon’ dari kaum Anshâr, Sa’d bin ‘Ubâdah, dan ‘calon’ lain, yaitu Abû Bakar.

c. Rasûl Allâh saw. mempertahankan di Madînah ‘Alî bin Abî Thâlib, ‘calon’ yang termuda. Pada waktu itu ‘Alî berusia tidak lebih dari 34 tahun.

Tatkala Rasûl Allâh saw. mengirim pasukan ini, beliau berkhotbah:

‘Saudara-saudara, percepatlah keberangkatan pasukan Usâmah ini. Demi hidupku, kalau kamu telah berbicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dahulu pun kamu telah berbicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan’. Sete­lah berhenti sebentar, beliau melanjutkan: ‘Seorang hamba Allâh telah disuruh-Nya memilih antara hidup di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih kembali ke sisi-Nya’

Pada waktu itu Abû Bakar menangis, karena ia mengetahui bahwa yang dimaksud Rasûl Allâh saw. itu ialah diri beliau sendiri.

Banyak ulama berpendapat bahwa tindakan Rasûl Allâh saw. mengirim pasukan ini ke Suriah ialah untuk memudahkan Rasûl Allâh saw. mengangkat ‘Alî bin Abî Thâlib menjadi pengganti beliau.

2. Rasûl Allâh saw. Hendak Membuat Surat Wa­siat, Tetapi Dihalangi ‘Umar bin Khaththâb. Hari Kamis Kelabu.

Demam Rasûl Allâh saw. timbul secara berkala. Pada hari Kamis tanggal 8 Rabî’ul Awwal, Rasûl Allâh saw. diserang demam. Beliau memerintahkan agar mengambil kertas dan tinta, untuk membuat surat wasiat, agar umat beliau tidak akan tersesat untuk selama-lamanya. ‘Umar yang hadir pada waktu itu, menghalangi maksud beliau dan mengatakan bahwa Rasûl Allâh saw. sedang mengigau. Terjadilah pertengkaran antara keluarga Rasûl Allâh saw. yang berada di belakang tirai, yang menghendaki agar ‘Umar memenuhi perintah Rasûl Allâh saw.. Hadis Sa’îd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbâs yang berkata “Hari Kamis aduh hari Kamis!” Kemudian air matanya mengalir di kedua pipinya seperti untaian mutiara. Ibnu ‘Abbâs melan­jutkan: ‘Rasûl Allâh bersabda: ‘Bawa-kan kepadaku tulang belikat (katf, kitf, katif, waktu itu dipakai sebagai kertas) dan tinta aku akan menuliskan bagimu surat agar kamu tidak akan pernah tersesat sesudahku untuk selama-lamanya!” Dan mereka menjawab: “Rasûl Allâh sedang mengigau!” [17]

Bukhârî mencatat dalam Bab Jawa’iz al-Wafd dari Jubair dari Ibnu ‘Abbâs : ‘Hari Kamis, aduh hari Kamis!” Kemudian ia menangis sehingga air matan­ya menetes ke kerikil. Ia lalu berkata: ‘Sakit Rasûl Allâh makin memberat pada hari Kamis, dan beliau berseru: ‘Ambilkan kertas akan kutulis bagi kamu surat, agar kamu tidak akan tersesat sesudahnya untuk selama-lamanya!’ Dan mereka bertengkar (tanâ­za’û) dan tidaklah pantas bertengkar di depan Nabî. Mereka berka­ta: ‘Rasûl Allâh sedang mengigau!(hajara, yahjuru)..

Dan beliau mewasiatkan menjelang wafatnya: “Keluarkan kaum musyr­ikin dari Jazirah Arab dan beri hadiah kepada utusan sebagaimana aku lakukan!’. Dan aku lupa yang ketiga” [18]

Bukhârî dan Muslim yang berasal dari Ibnu ‘Abbâs : “Menjelang wafatnya Nabî, di rumahnya berada beberapa orang di antaranya ‘Umar bin Khaththâb. Beliau bersabda: ‘Biarkan (halumma) kutulis­kan untuk kamu surat, agar kamu tidak pernah akan tersesat sesu­dahnya!’ ‘Umar menjawab: ‘Nabî telah dikuasai sakit dan ada padamu al-Qur’ân maka cukuplah Kitâb Allâh!’. Dan keluarga Rasûl berselisih pendapat (dengan ‘Umar) dan mereka bertengkar. Dan di antaranya ada yang berkata: ‘Kamu bawakanlah! Biar beliau menu­liskan untukmu surat yang tidak akan pernah membuat kamu tersesat sesudahnya!’ Dan di antara mereka ada yang berkata seperti dika­takan ‘Umar. Dan tatkala ucapan-ucapan dan perselisihan makin menjadi-jadi, beliau bersabda: “Pergilah kamu dari sini!”[19]. Dan diriwayatkan oleh Imâm Ahmad dari Jâbir: ‘Bahwa Nabî meminta lembaran (shahîfah) menjelang ajalnya, agar beliau dapat menuliskan surat supaya orang-orang tidak pernah akan tersesat sesudahnya, dan ‘Umar menentangnya (khâlafa), bahkan menolaknya’ [20].

Riwayat Ibn Abîl-Hadîd yang berasal dari Jauharî: “Dan tatkala pertentangan dan suara makin bertambah tak menentu, Rasûl Allâh marah dan berseru: ‘Pergilah dari sini! Tidaklah pantas bertengkar demikian di depan Nabî! Maka keluarlah!”’[21]

Imâm Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs :”Tatkala menjelang ajaln­ya, Rasûl Allâh saw. bersabda: ‘Ambilkan tulang belikat akan kutuliskan kepadamu tulisan sehingga tidak akan berselisih dua orang sesudahnya.Maka orang-orang mulai ribut. Dan seorang wanita berkata: ‘Celaka kamu!’.[22]

Muttaqî al-Hindî berkata dalam Kanzu’l-’Ummâl dari Ibnu Sa’d dengan sanad yang berasal dari ‘Umar yang berkata: “Kami berada dirumah Nabî dan di antara kami dan kaum wanita terdapat hijâb: Maka Rasûl Allâh bersabda: ‘Basuhi diriku dengan tujuh kantong air (qirâb, kantong yang terbuat dari kulit, pen.) dan ambilkan lembaran dan tinta agar aku menuliskan untuk kamu surat supaya kamu tidak akan pernah tersesat sesudahnya untuk selama-lamanya!’ Dan berkatalah kaum wanita: ‘Penuhi keinginan Rasûl Allâh!’ Dan aku berkata: ‘Diam kamu! Bila ia sakit kamu menangis! Tapi bila ia sehat kamu pegang tengkuknya!’ Maka Rasûl Allâh saw. bersabda: ‘Mereka lebih baik dari kamu!’[23]

Akhirnya permintaan Rasûl Allâh saw. tidak terpenuhi. ‘Umar kemudian mengakui bahwa Rasûl Allâh saw. ingin membuat wasiat untuk ‘Alî sebagai penggantinya, tetapi ia menghalanginya.



[1] Ibnu Hisyâm, as-Sîrah an-Nabawiyah, jilid 2, hlm. 427 : Thabarî, Târîkh al-Mulûk wa al-Umam, jilid 2, hlm. 199-201; Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 22-29; Ibnu Katsîr, al-Bidâyah wan Nihâyah, jilid 5, hlm. 245-247. Pidato ‘Umar tentang Saqîfah ini, sebagian dicatat pula oleh Shahîh Bukhârî dalam bab “Hukum Rajam pada orang Hamil Karena Perzinaan”, jilid 10, hlm. 44; Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 56

[2] Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, jilid 1, hlm. 581

[3] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 25.

[4] Lihat Ibn Abîl-Hadîd, Syarah Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 26; Shahîh Bukhârî, jilid 8, hlm. 27; Ibnu Atsîr, an-Nihâyah, jilid 3, hlm. 466; Thabarî, Târîkh, jilid 3, hlm. 205

[5] Ibn Abîl-Hadîd, ibid., jilid 1, hlm. 132, Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, jilid 1, hlm. 590

[6] ‘Alî bin Abî Thâlib bin ‘Abdul Muththalib bin Hâsyim dari klan Quraisy, lahir di tengah Ka’bah (lihat Al-Hâkim, Mustadrak, jilid 3, hlm. 483, Al-Mâlikî, Al-Fushûl al-Muhimmah, Al-Maghâzilî asy-Syâfi’î dalam Manâqib-nya, Syablanji dalam Nûru’l Abshar, hlm. 69.) pada tanggal 13 Rajab tahun 30 Tahun Gajah. Ia dibesarkan oleh Nabî di rumahnya, memeluk Islam setelah Khadîjah pada umur lima belas tahun dan merupakan lelaki pertama yang memeluk Islam. Bermalam di tempat tidur Nabî pada malam Nabî berhijrah ke Madînah, merelakan diri dan mengambil risiko jadi korban demi keselamatan Rasûl. Kemudian Hijrah ke Madînah. Dipersaudarakan oleh Rasûl dengan diri beliau sendiri. Ikut dalam Perang Badr dan perang-perang sesu­dahnya. Ia dibaiat pada bulan Dzul Hijjah tahun 35 H.,Juni 656 M. setelah ‘Utsmân terbunuh. Setelah Perang Jamal pindah ke Kûfah, yang dijadikan ibu kota kekhalifahannya. Dibacok ‘Abdur­rahmân bin Muljam A l-Muradî pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 H.,26 Januari 661 M. di di mihrâb Masjid Kûfah dan meninggal tanggal 21 pada umur 63 tahun. Dikuburkan dipinggir Selatan Kuffah, Najaf, sekarang termasuk wilayah Irak. Menjadi khalîfah selama 4 tahun 9 bulan dan 6 hari

[7] Al-Qur’ân, asy-Syu’arâ’ (XXVI), 214

[8] Lihat bab “Nas Bagi ‘Alî”

[9] Sa’d bin ‘Ubâdah bin Dulaim bin Hâritsah bin Abî Khuzai­mah bin Tsa’labah bin Tharif bin Khazraj bin Sâ’idah bin Ka’b bin al-Khazraj orang Anshâr. Ia ikut dalam Bai’ah al-’Aqabah dan perang-perang bersama Rasûl kecuali Perang Badr. Masih jadi perdebatan apakah ia turut dalam perang tersebut atau tidak. Ia terkenal sebagai seorang pemurah dan dermawan. Lihat Bab 8: “Pembaiatan Abû Bakar”, Bab 9: “Nasib Sa’d bin ‘Ubâdah.”

[10] Abû Hafsha ‘Umar bin Khaththâb bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdullâh bin Qarth bin Razah bin ‘Adî dari Banî Quraisy dan ibunya Hantamah binti Hisyâm atau Hâsyim bin Al-Mughîrah bin ‘Abdullâh bin ‘Umar bin Makhzum. Menjadi muslim setelah jumlah muslim sudah sekitar 50 orang dan berhijrah ke Madînah. Ikut Perang Badr dan perang-perang sesudah itu. Ia menggantikan Abû Bakar sebagai khalîfah dan Islam menyebar di zamannya. Ia ditusuk Abû Lu’lu’ah , seorang budak yang dikirim oleh Mughuirah bin Syu’bah , pada 4 hari sebelum Dzul Hijjah berakhir, tahun 23 H.,3 November 644 M.. Umarnya 55 tahun atau 63 tahun dan me­ninggal dan dikuburkan bulan awal Muharram tahun 24 H. di sisi kuburan Abû Bakar di kamar Rasûl dan masa kekhalifahannya 10 tahun dan 6 bulan dan 5 bulan

[11] Abû Bakar ‘Abdullâh bin Abî Quhâfah ‘Utsmân bin ‘Âmir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah at-Taimi, dari Banî Quraisy. Ibunya Ummu al-Khair Salma atau Laila binti Shahr bin ‘Âmir bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah. Lahir 2 atau 3 tahun sesudah Tahun Gajah, dan termasuk pemeluk Islam awal, kawan Rasûl dalam hijrah ke Madînah, pengikut Perang Badr, dan perang-perang sesudahnya, dan dibaiat sebagai khalîfah di Saqîfah Banî Sâ’idah setelah Rasûl wafat, sebelum dikuburkan dan meninggal 8 hari sebelum Jumadil Akhir berakhir, tahun 13 H.,23 Agustus 634 M. dan dikuburkan di kamar Rasûl dalam umur 63 tahun; masa kekhalifahannya adalah 2 tahun 3 bulan dan 10 hari.

[12] ‘Abû ‘Ubaidah ‘Âmir bin ‘Abdullâh bin Al-Jarrâh bin Hilal al-Fihri dari Banî Quraisy dan ibunya Umaimah bin Ghanm bin Jâbir bin ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Âmir bin ‘Umairah. Penganut Islam Awal dan berhijrah dua kali, ke Habasyah kemudian ke Madînah, meninggal karena penyakit Pes di ‘Amwas, Syria, tahun 18 H.,639 M. dan dikuburkan di Yordan. Bersama Abû Bakar dan ‘Umar merupakan tiga tokoh Quraisy terpenting dalam perdebatan dengan kaum Anshâr di Saqîfah Banî Sâ’idah di samping ‘Abdurrahmân bin ‘Auf dan Mughîrah bin Syu’bah. Lihat Bab 6: “Pertemuan Kelompok ‘Umar”. Bab 8: “Pembaiatan Abû Bakar”.

[13] Nama leng­kapnya adalah Al-Mughîrah bin Syu’bah bin Abî Amîr bin Mas’ûd ats-Tsaqafi. Ibunya wanita dari Banî Nashr bin Mu’awiah. Menganut Islam pada tahun timbulnya Perang Khandaq, tahun 8 H.,629 M., enam bulan sebelum penaklukan Makkah. Ia hijrah ke Madînah dan ikut Perang Hudaibiah. Rasûl mengirimnya ke kaisar Najasyi di Habasya untuk mengubah opini kaisar tentang Ja’far bin Abî Thâlib dan kawan-kawan Muhâjirîn dan agar mereka bisa kembali ke Makkah. Dan kaisar meluluskannya. Ikut menaklukkan Mesir di zaman ‘Umar dan diangkat jadi gubernurnya sampai tahun keempat kekhalifahan ‘Utsmân yang memecatnya. Ia lalu menentang ‘Utsmân sampai ‘Utsmân terbunuh. Setelah itu ia bergabung dengan Mu’âwiyah dalam Perang Shiffîn memerangi ‘Alî

[14] Abû Muhammad ‘Abdurrahmân bin ‘Auf bin ‘Abd bin Al-Hârits bin Zamrah az-Zuhrî dari Banî Quraisy dan ibunya Syifa’ binti ‘Auf bin ‘Abd bin Al-Hârits bin Zuhrah. Dilahirkan 10 tahun sesudah Tahun Gajah dan namanya di zaman jahiliah adalah ‘Abd ‘Umar atau ‘Abd Ka’bah dan dinamakan Rasûl ‘Abdurrahmân. Berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madînah dan ikut Perang Badar dan Perang-Perang sesudahnya. ‘Umar menun­juknya sebagai salah seorang anggota Sûyrâ. Meninggal di Madînah tahun 31 atau 32 H.,652 atau 653 M. dan dikuburkan di Baqî’ al-Gharqad. Lihat Bab 14: “Pembaiatan Khalîfah ‘Umar dan ‘Uts­mân.”

[15] Ibnu Sa’d, Thabaqât al-Kubrâ, jilid 2, hlm. 192, dalam membicarakan ekspedisi Zaid, menyebut bahwa Abû Bakar dan ‘Umar termasuk dalam pasukan Usâmah; juga Kanzu’l-’Ummâl, jilid 5, hlm. 312; dan lain-lain. Lihat catatan kaki berikut

[16] Syahrastani, al-Milal wan Nihal, edisi Mushtafa al-Babiy al-Halbi, dengan penyunting Muhammad Sayyid Kilani, jilid 1, hlm. 23. Syahrastani berkata: “Pertentangan kedua, tatkala beliau sakit, beliau telah bersabda: “Persiapkan pasukan Usâmah, mudah-mudahan Allâh melaknati mereka yang mening­galkannya!”

[17] Shahîh Muslim, pada akhir Kitâb al-Washîyah; Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 355).

[18] Shahîh Bukhârî, jilid 2, hlm. 111, ‘Kitâb al-Jihad’.

[19] Qûmû ‘annî. Shahîh Bukhârî, Bab Karahiyah al-Khilaf min Kitâb al-I’tisham bî’l-Kitâb was-Sunnah; Shahîh Muslim pada akhir Kitâb al-Washîyah.

[20] Musnad Ahmad, jilid 3, hlm. 346

[21] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 20.

[22] Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 293

[23] Kanzu’l-’Ummâl, jilid 4, hlm. 52. Lihat “Bab 15” Sub Bab “Umar Berani Tolak Permintaan Rasûl saw”.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment